Rp24,6 Miliar Tak Dibayar, Tata Kelola Keuangan Gayo Lues Dipertanyakan

JURNAL ACEH

- Redaksi

Selasa, 13 Januari 2026 - 08:13 WIB

50601 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Syahputra Ariga
Analis Kebijakan Publik.

Gayo Lues kembali menjadi sorotan publik. Kali ini bukan semata karena persoalan pembangunan atau bencana alam, melainkan akibat mencuatnya dugaan persoalan serius dalam tata kelola keuangan daerah. Informasi mengenai tidak dibayarkannya Surat Perintah Membayar (SPM) senilai Rp24,6 miliar pada tahun anggaran 2025 telah memicu kegelisahan luas, terutama di kalangan aparatur sipil negara, rekanan, dan masyarakat yang menggantungkan keberlangsungan ekonomi pada belanja pemerintah daerah.

SPM bukan sekadar dokumen administratif. Dalam sistem keuangan negara, SPM adalah instrumen sah yang menegaskan bahwa suatu belanja telah diverifikasi, disetujui, dan wajib dibayarkan pada tahun anggaran berjalan. Ketika SPM diterbitkan namun tidak dibayarkan, maka persoalan yang muncul bukan lagi soal teknis kas semata, melainkan indikasi lemahnya kepatuhan terhadap prinsip akuntabilitas dan kepastian hukum anggaran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berdasarkan informasi yang beredar, dana Rp24,6 miliar tersebut disebut dialihkan untuk menutup kekurangan pendapatan daerah dan pajak kendaraan, dengan janji pembayaran baru akan dilakukan pada triwulan pertama tahun 2026. Narasi ini justru menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah penutupan defisit dapat dibenarkan dengan menunda kewajiban belanja yang telah memiliki dasar hukum formal?

Jika merujuk pada PP Nomor 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah serta Permendagri Nomor 77 Tahun 2020, pemerintah daerah diwajibkan melaksanakan belanja sesuai dengan tahun anggaran yang telah ditetapkan. Kewajiban pembayaran atas belanja yang telah diterbitkan SPM tidak dapat digeser ke tahun berikutnya tanpa mekanisme yang sah dan transparan. Penundaan semacam ini berpotensi melanggar asas tertib anggaran, efisiensi, dan kepatuhan hukum.

Situasi ini diperparah oleh absennya penjelasan langsung dari Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah (BPKK) yang disebut sedang menjalani pengobatan di luar daerah. Alasan kesehatan tentu patut dihormati secara manusiawi. Namun, dalam konteks tata kelola pemerintahan, institusi tidak boleh lumpuh hanya karena satu pejabat tidak hadir. Transparansi tetap harus berjalan, baik melalui pejabat pengganti maupun pernyataan resmi lembaga.

Dampak dari persoalan ini tidak bisa dipandang ringan. Di lapangan, terdapat ASN yang belum menerima haknya, rekanan yang menanggung utang operasional, hingga pelaku usaha kecil yang terdampak langsung oleh tertahannya perputaran uang daerah. Dalam konteks daerah seperti Gayo Lues, belanja pemerintah adalah salah satu motor utama ekonomi lokal. Ketika belanja tersendat, maka efek domino terhadap daya beli dan stabilitas sosial menjadi keniscayaan.

Lebih jauh, persoalan ini berpotensi menjadi bom waktu kepercayaan publik. Ketika dokumen resmi negara seperti SPM tidak lagi menjamin kepastian pembayaran, maka kepercayaan terhadap sistem keuangan daerah akan runtuh. Pemerintahan yang sehat tidak hanya diukur dari kepatuhan administratif, tetapi dari keberanian mengakui masalah dan menyelesaikannya secara terbuka.

Oleh karena itu, diperlukan langkah korektif yang tegas dan cepat. Pemerintah Kabupaten Gayo Lues harus segera membuka informasi secara jujur kepada publik: apa akar masalahnya, di mana letak kekeliruannya, dan bagaimana skema penyelesaiannya. Inspektorat daerah, Pemerintah Provinsi Aceh, bahkan aparat pengawasan eksternal perlu memastikan bahwa tidak terjadi pelanggaran hukum anggaran.

Kasus Rp24,6 miliar ini seharusnya menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola keuangan daerah. Tanpa pembenahan serius, persoalan serupa berpotensi terus berulang. Pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya angka dalam laporan keuangan, melainkan integritas pemerintahan dan keadilan bagi masyarakat Gayo Lues.

Berita Terkait

Soroti Tren Belanja E-Purchasing, APH Diminta Awasi Ketat Dinas Pertanian Gayo Lues
Perpustakaan Desa Tak Ada Wujud, Dana Ratusan Juta di Pinang Rugup Hilang Misterius
Peserta Seleksi Baitul Mal Kabupaten Gayo Lues Minta Pansel Buka Nilai Tes Secara Transparan
Pengembangan Kasus Berbuah Hasil, Satresnarkoba Polres Gayo Lues Ringkus Dua Pelaku dan Sita Ratusan Gram Ganja
Silaturahmi LSM WGAB dan Media ke Kantor Desa Rigeb Dorong Sinergi Pembangunan Gayo Lues
Dua Pejabat Diduga Judi di Tengah Derita Rakyat, Wibawa Pemerintah Gayo Lues Dipertaruhkan
Mahasiswa Desak APH Tindak Kaban Keuangan Gayo Lues: Rp24,6 Miliar SPM Tak Dibayar, Tata Kelola Keuangan Dinilai Busuk

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 00:01 WIB

Kongkalikong Alat Berat dan Setoran Disorot Warga Geumpang, Penertiban Tambang Diminta Jangan Berhenti di Operator

Selasa, 22 September 2026 - 03:12 WIB

Tenda Tambang Dibakar, Dugaan Pemodal Cina Masih Misterius: Penertiban PETI Geumpang Jangan Berhenti di Permukaan

Selasa, 22 September 2026 - 03:11 WIB

PETI Geumpang dan Dugaan Modal Cina: Tenda Penambang Lokal Ditertibkan, Siapa Pemilik Alat Berat yang Belum Tersentuh?

Minggu, 20 September 2026 - 20:51 WIB

Pidie Berpesta di Usia ke-515, Warga Alue Pigoe Menangisi Kamp Kerja yang Hangus Dilalap Api

Minggu, 20 September 2026 - 02:46 WIB

PETI Geumpang Pidie Kembali Dipertanyakan, Warganet Singgung Dugaan Setoran dan Tambang yang Disebut Kembali Beroperasi

Minggu, 20 September 2026 - 01:03 WIB

PETI Geumpang Kembali Disorot setelah Penindakan Sebelumnya, Nama Wakil Bupati Muncul di Medsos, APW-LLA Desak Pengawasan Diperketat

Sabtu, 12 September 2026 - 18:35 WIB

Ribuan Lubang Tambang Emas Mengancam Geumpang, Pemerintah Didesak Ungkap Data, Risiko Bencana dan Potensi Pencemaran

Senin, 3 Agustus 2026 - 23:17 WIB

Polres Pidie Raih Penghargaan Kapolri atas Capaian Nilai IKPA Sempurna Tahun Anggaran 2025

Berita Terbaru